Proses Kreatif
Ketika mengenal puisi saat menggoda seseorang. Puisi tampak mengomentari dan menganggapi. Pada akhir dia berfikir bahwa bukan pandangan saya. Dengan latar belakang dia tentu mengikuti dengan beliau. Apa yang diharapkan oleh dia puisi-puisi milik orang lain. Proses yang menikmati, menghayati, dan mengamati tentu kata bisa ditangkap secara tepat. Mendengar asuhan semacam pendapat mengagas secara bergugah. Kadang-kadang berdialog dengan sendiri bisa meningkatkan puisi dari diri sendiri. Ia berfikir bahwa puisi itu tak pernah melepas dari pengucapan, dan penghayatan. Namun pengaruh orang lain bisa dapatkan. Dan puisi mudah menggoda pada seseorang. Dia penggemar buku dilihat dari kerapian dan tepat pada susunan kata. Penempatan kata lebih pada majas metafora pada perjalanan puisi tersebut. Puisi yang bahas itu cenderung diksi yang sederhana dan pengungkapan. Dia belum bisa mengatakan bahwa puisi itu pengayaan dan penguatan tapi tiap pengendapan yang dilakukan. Tapi di kampung jenggot lebih menarik dengan puisi. Buah dibelikan kadang beli yang mudah tapi filosofi yang tepat. Tapi puisi yang tanam namun bisa matang tapi perlu dikelola. Karena menganggap pengalaman menjadi sesuatu yang baru. Yang sudah mencoba belum bisa merambat ke sana. Puisi pada akhirnya dibuat pada pencarian kata. Puisi ini lebih sederhana dan mengikuti kata yang luas. Puisi yang pertama kali menganggap gagal. Lebih baik puisi dipengaruhi oleh orang lain. Puisi bisa mendepankan pencerahan pada orang lain. Dan mengugah perasaan pada puisi tersebut.
KIM AL-GHOZALI :
Puisi Silsalah Kata ada sebuah cerita pada sejarah dan teknologi. Ketika waktu pesantren pada SMP. Kalau dilihat dari perempuan tentu punya pergaulan yang menarik. Tapi dilarang bergaul. Namun menulis surat berbayar. Selain itu yang dikenal pada kurikulum pesantren tersebut cenderung pada puisi arab. Ia mempelajari puisi arab yang klasik. Setelah masuk SMA dia mengenal puisi sudah mengoles buku perpustakaan. Menulis bisa dikatakan sebuah kata yang mengugah bahasa.
Disanalah horison puisi yang bisa didapatkan. Menulis puisi tepat cinta yang kedua. Setelah lulus sudah berhenti dan mulai mengendapi gangguan pada dia. Disanalah sudah berfikir puisi bisa dimulai dari awal hingga membekali proses kreatif pada puisi.
DADANG ARI MURTONO :
Sebelum menulis puisi dia mengagumi puisi Chairil Anwar, SDD, dan tokoh penyair lainnya. Dia mendengat bahwa puisi seperti mengendap alam. Menulis puisi seperti mengiringi jalan kaki hingga ke tujuan. Semestinya dia berdialog pada bahasa jawa. Dia tidak pernah mengawam dalam menulis puisi. Seakan-akan meliputi kehidupan. Salah satu idola dalam puisi adalah Raudal Tanjung Banua. Ketika sampai disana ada mereka yang bertemui. Akhirnya tidak jadi dan menginap dalam satu malam. Dia kira puisi Raudal Tanjung Banua bahwa mengoptimis kata-kata dan belum menemukan diksi. Akhirnya dia menemukan ludruk sebagai awal proses penciptaan puisi. Puisi-puisi layak mempunyai dunia yang baru. Semua hal yang belum pernah dirasakan ketika proses menulis puisi. Ketika itu puisi tentang ludruk belum ada ditemukan. Naskah-naskah dalam ludruk berupa naskah drama. Tidak harus menghafal dialog dalam naskah ludruk. Ternyata puisi bisa menumbuhkan jiwa kebudayaan. Ada sentuh saja. Tidak sederhana dalam menulis memadati politik dan pandangan lainnya. Ludruk Kedua itu cenderung kuatkan perasaan secara proaktif dan kendalikan kata.
Yogyakarta, 22 April 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar